Scaffolding Learning Warnai Kelas IX D Matsanaba, Siswa Belajar Bahasa Inggris Tanpa Kamus dan Gawai
Bantul (MTsN 6 Bantul) — Suasana pembelajaran Bahasa Inggris di kelas IX D MTsN 6 Bantul (Matsanaba) pada Rabu, 11 Februari 2026, tampak berbeda dari biasanya. Para siswa mengikuti proses belajar dengan menggunakan metode scaffolding, sebuah pendekatan pembelajaran bertahap yang memberikan bantuan terstruktur agar siswa mampu memahami materi secara mandiri. Menariknya, pada hari itu pembelajaran dipandu oleh Mr. Tono, bukan guru Bahasa Inggris yang biasa mengajar di kelas tersebut.
Pada tahap pertama, siswa diminta menuliskan bahan-bahan (ingredients) yang digunakan untuk membuat cemplon ke dalam Bahasa Inggris. Kegiatan ini melatih kemampuan kosakata sekaligus mengaktifkan pengetahuan awal siswa terkait teks prosedur. Tanpa membuka kamus maupun menggunakan telepon genggam, siswa berusaha mengingat dan menerjemahkan nama-nama bahan secara mandiri berdasarkan pemahaman yang telah mereka miliki.
Memasuki tahap kedua, siswa diarahkan untuk menyusun beberapa pertanyaan terkait proses pembuatan cemplon. Guru menyediakan satu baris kosong pada setiap nomor soal agar nantinya dapat diisi dengan jawaban yang tepat. Tahapan ini dirancang untuk melatih kemampuan berpikir kritis siswa dalam menyusun wh-questions sekaligus memahami struktur teks prosedur secara lebih mendalam.
Pada tahap ketiga, Mr. Tono memanfaatkan layar proyektor untuk menampilkan teks prosedur yang berisi bagian ingredients dan steps. Bagian-bagian penting tersebut disorot secara khusus guna membantu siswa memfokuskan perhatian pada informasi kunci. Strategi ini menjadi bentuk scaffolding visual yang mempermudah siswa dalam mengidentifikasi jawaban yang relevan.
Tahap selanjutnya, siswa diminta mengisi pertanyaan yang telah mereka susun dengan bantuan teks yang ditampilkan dan disorot pada layar LCD. Dengan dukungan visual tersebut, siswa dapat menemukan jawaban secara lebih terarah tanpa harus membuka kamus maupun menggunakan handphone. Proses ini menunjukkan bahwa dengan bimbingan bertahap, siswa mampu membangun pemahaman secara mandiri.
Kegiatan pembelajaran berlangsung dengan suasana yang kondusif. Para siswa tampak fokus membaca, menulis, dan mencermati bagian teks yang diproyeksikan. Metode scaffolding yang diterapkan secara sistematis membuat siswa lebih percaya diri dalam menyelesaikan tugas, meskipun tanpa bantuan alat terjemahan digital.
Kepala MTsN 6 Bantul, Sugiyono, memberikan apresiasi terhadap inovasi pembelajaran tersebut. “Saya mendorong seluruh guru untuk terus mengembangkan berbagai metode pembelajaran yang kreatif dan berpihak pada siswa. Metode scaffolding seperti ini sangat baik untuk melatih kemandirian dan kemampuan berpikir kritis peserta didik,” ujarnya. Dengan dukungan penuh dari pimpinan madrasah, diharapkan praktik pembelajaran inovatif seperti ini semakin berkembang di Matsanaba.(ewh)