Pererat Kekeluargaan, MAN 3 Bantul Gelar Syawalan: Jadikan Senyum Guru sebagai Cahaya Pendidikan
Bantul (MAN 3 Bantul) – Keluarga besar Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Bantul menyelenggarakan acara Syawalan dan Halalbihalal, Sabtu (11/04/2026). Bertempat di lapangan basket madrasah, acara ini dihadiri oleh seluruh guru, pegawai, serta para purna tugas yang pernah mengabdikan diri di institusi yang akrab disapa MANTABA ini.
Kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an yang khidmat, dilanjutkan dengan ikrar syawalan yang dipimpin oleh M. Munawar Yasin disambung sambutan hangat dari Kepala Madrasah, Suyanto. Dalam pidatonya, Suyanto menyampaikan apresiasi mendalam kepada para mantan guru dan seluruh keluarga besar yang terus menjaga silaturahmi.
"Di madrasah ini, Bapak/Ibu guru memiliki tiga peran utama: sebagai pegawai dengan waktu terbatas, sebagai keluarga yang ikatannya tidak terputus meski sudah purna tugas, dan sebagai pendidik yang hubungan kekeluargaannya bersifat abadi," ujar Suyanto.
Ia juga memohon doa agar MAN 3 Bantul semakin jaya, makmur, dan mampu memberikan pelayanan pendidikan terbaik bagi umat.
Acara inti diisi dengan pengajian hikmah syawalan oleh Anis Masduki. Dalam uraiannya, Anis menjelaskan bahwa halalbihalal merupakan produk kearifan lokal Indonesia yang digagas oleh KH Wahab Hasbullah dan Presiden Soekarno pada tahun 1948 untuk merajut kembali persatuan nasional. Lebih lanjut ia juga menyampaikan salah satu bentuk sedekah paling mudah namun berdampak besar adalah senyuman. Jika semua guru menyambut siswa dengan wajah bahagia dan penuh senyum, maka citra madrasah akan terbangun dengan sendirinya sebagai tempat yang menyenangkan," jelas lulusan Mesir tersebut.
Anis juga memberikan catatan penting mengenai tantangan mendidik Generasi Alfa. Mengutip nasihat Luqmanul Hakim, beliau menekankan bahwa hati anak didik harus disuburkan dengan cahaya ilmu melalui interaksi langsung dengan guru.
"Allah menyuburkan bumi dengan air hujan, dan Allah menyuburkan hati anak didik dengan cahaya ilmu dari para guru. Di tengah gempuran media sosial, kehadiran guru secara spiritual dan fisik sangat dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan antara penguasaan teknologi dan etika moralitas," tambahnya.
Kegiatan yang berlangsung penuh keakraban ini ditutup dengan pembagian doorprice. Setelah ditutup, seluruh peserta syawalan melakukan mushafahah dan kegiatan ramah tamah. (Ris/sum)