I Gede Suwardana, Penyuluh Agama Hindu Kankemenag Bantul, Wakili Indonesia dalam Dialogue Cities Southeast Asia 3rd Conference di Kuala Lumpur
Kuala Lumpur (Kankemenag Bantul) — Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bantul (Kankemenag Bantul), I Gede Suwardana, hadir sebagai salah satu utusan dalam Dialogue Cities Southeast Asia 3rd Conference yang diselenggarakan di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 25–29 Oktober 2026. Dalam konferensi yang membahas upaya menciptakan kesempatan untuk membangun keharmonisan di tengah perbedaan organisasi dan kota-kota se-Asia Tenggara ini, I Gede Suwardana juga didapuk sebagai salah satu dari delapan tokoh lintas agama dari berbagai negara yang menyampaikan renungan.
Acara pembukaan konferensi tersebut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, di antaranya Mohd. Jamaludin Shamsudin (CEO Accin dan Anggota Lembaga Kerukunan Nasional Malaysia), Puan Nurul Izzah Binti Anwar (Ketua Eksekutif Suluh Centre sekaligus Anggota Parlemen Lembah Pantai), serta Mitra Modaressi dari KAICIID. Selain itu, kegiatan ini juga diikuti oleh rombongan delegasi asal Yogyakarta yang berjumlah 11 orang dari berbagai lembaga, yaitu Erin (Center for GEDSI UNU Jogja), Machasin (Ketua FKUB DIY), Anditya (Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia), Wiwin Siti Aminah Rohmawati (KAICIID Fellow angkatan pertama 2015 sekaligus City Coordinator untuk Dialogue Cities Conference), Joko Lelono (Gereja Katolik, Komisi Hubungan Antar-Agama dan Kepercayaan, serta dosen Fakultas Teologi USD), Adin Fahima (Seknas Gusdurian), Baskoro (Ketua Remaja Kepercayaan Sapta Darma Wilayah Jogja), I Gede Suwardana (Kankemenag Kab. Bantul, PHDI DIY, Ketua Dharma Duta), Imam Khoiri (Kanwil Kemenag DIY), Cory Afif (Kesbangpol Pemda DIY), serta Shinta Maharani.
Pada sesi penyampaian renungan, I Gede Suwardana membawakan paparan bertajuk "Words of Wisdom on Peace and Harmony, reflecting the Teaching and Values of Respective Religious Tradition". Membuka sesinya dengan salam umat Hindu, ia menjelaskan bahwa dalam tradisi Sanatana Dharma atau Hindu, perdamaian (Shanti) bukan sekadar ketiadaan kebisingan di luar, melainkan kehadiran keheningan di dalam diri. Ia menjelaskan makna pengucapan kata Shanti sebanyak tiga kali di akhir doa yang merujuk pada tiga jenis gangguan: adhyatmika (dari dalam diri seperti amarah, kecemasan, dan ego), adhibhautika (dari makhluk lain berupa konflik, ujaran kebencian, dan kesalahpahaman), serta adhidaivika (dari alam seperti bencana dan perubahan iklim).
Lebih lanjut, ia memaparkan prinsip keharmonisan indah melalui konsep Vasudhaiva Kutumbakam yang bersumber dari Maha Upanisad 6.72, bahwa seluruh dunia adalah satu keluarga, bukan hanya terbatas pada agama atau negara tertentu. Nilai tersebut juga dikuatkan dengan kutipan Rig Weda 10.191.2 tentang pentingnya berjalan dan berbicara bersama untuk menyatukan pikiran, serta kebijaksanaan dari Bhagawad Gita 5.29 mengenai kasih sayang kepada setiap makhluk hidup. Di akhir renungannya, ia menegaskan bahwa perdamaian sejati terwujud ketika seseorang melihat Tuhan tidak hanya di tempat ibadah, melainkan pada tetangga yang berbeda, serta menggunakan tangan untuk memberi dan kata-kata untuk menyembuhkan. Dialog lintas negara ini diharapkan menjadi media strategis untuk menyatukan sudt pandang, menghargai perbedaan, serta melakukan langkah nyata yang berdampak luas bagi keharmonisan regional Asia Tenggara. (ev)