Lompat ke isi utama
MA Madania

FPMI DIY Dikukuhkan, MA Madania Bantul Mantapkan Langkah menuju Madrasah Inklusi

Dikirim oleh Dendy Pramana.P pada 14 October 2026

Bantul (MA Madania Bantul) - Pengurus Forum Pendidik Madrasah Inklusi (FPMI) Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta Masa Khidmat 2026–2031, resmi dikukuhkan pada Rabu (14/10/2026) bertempat di Aula MAN 2 Sleman. Pengukuhan ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat sinergi dan komitmen bersama dalam mewujudkan pendidikan madrasah yang inklusif, humanis, dan ramah bagi semua.

 

Pengukuhan dilakukan oleh Kepala Bidang Penmad Kanwil Kemenag DIY, Sidik Pramono, didampingi Ketua Tim Kerja 2 bidang Penmad, Basyori Alwi, dan Ketua Tim Kerja 3 bidang Penmad, Abdu Na'im. Kegiatan tersebut dihadiri seluruh Kepala Seksi Penmad kabupaten/kota se-DIY, para Ketua Kelompok Kerja Raudhatul Athfal (KKRA), Kelompok Kerja Madrasah Ibtidaiyah (KKMI), Kelompok Kerja Madrasah Tsanawiyah (KKMTs), serta Kelompok Kerja Madrasah Aliyah (KKMA) DIY. Turut membersamai kegiatan yaitu Kepala MAN 2 Sleman, Wiranto Prasetyahadi, sebagai tuan rumah.

 

Setelah prosesi pengukuhan, acara dilanjutkan dengan penyerahan Surat Keputusan kepada seluruh pengurus oleh Kabid Penmad Kanwil Kemenag DIY. Agenda berikutnya berupa penyusunan program kerja dan sidang pleno untuk merumuskan arah gerak organisasi selama lima tahun ke depan.

 

Melalui kepengurusan baru ini, FPMI Wilayah DIY dengan ketua terpilih Suratini, GTK di MAN 2 Sleman diharapkan mampu memperkuat kapasitas pendidik madrasah dalam memahami dan menerapkan pendidikan inklusif, membangun kolaborasi lintas satuan pendidikan, serta mendorong terciptanya lingkungan belajar yang menghargai keberagaman karakteristik dan kebutuhan peserta didik.

 

Momentum pengukuhan ini membawa makna tersendiri bagi Kepala MA Madania Bantul, Anis Fatiha, yang memperoleh amanah sebagai salah satu pengurus FPMI Wilayah DIY sekaligus menerima SK penetapan MA Madania Bantul sebagai madrasah piloting inklusi.

MA Madania

Amanah tersebut menjadi kesempatan sekaligus tanggung jawab untuk ikut mengambil bagian dalam pengembangan pendidikan inklusif di lingkungan madrasah. Bagi MA Madania Bantul, penetapan sebagai madrasah piloting inklusi bukan sekadar sebuah pengakuan, melainkan titik awal untuk terus belajar, berbenah, dan membangun layanan pendidikan yang semakin responsif terhadap kebutuhan peserta didik.

 

Mewujudkan madrasah inklusi tentu bukan perkara mudah. Dibutuhkan kesiapan pendidik dan tenaga kependidikan, penguatan kompetensi guru, penyesuaian strategi pembelajaran, serta dukungan berbagai pihak agar setiap peserta didik memperoleh kesempatan belajar dan berkembang secara optimal.

 

Menanggapi amanah tersebut, Anis Fatiha mengungkapkan tekadnya untuk menjalani proses dengan penuh kesungguhan. “Bukan hal yang mudah, tetapi Bismillah, berproses sambil terus belajar. Amanah ini menjadi pengingat bahwa menghadirkan pendidikan yang inklusif membutuhkan komitmen, kolaborasi, dan kemauan untuk terus memperbaiki diri. Kami ingin belajar bersama agar madrasah semakin mampu menjadi ruang yang ramah bagi semua anak,” ungkap Anis.

 

Pengukuhan pengurus FPMI Wilayah DIY Masa Khidmat 2026–2031 pun menjadi awal dari perjalanan bersama untuk menghadirkan pendidikan yang semakin terbuka dan berpihak pada kebutuhan peserta didik. Madrasah yang hebat bukan hanya madrasah yang mampu mengantarkan peserta didiknya meraih prestasi, melainkan juga madrasah yang bersedia membuka pintu, merangkul perbedaan, dan memastikan tidak ada anak yang merasa tertinggal. (Humas Madania)