Lompat ke isi utama
MTsN 6 Bantul

Pendekatan Personal Jadi Strategi Efektif MTsN 6 Bantul Bina Karakter Siswa

Dikirim oleh Sugiyono pada 12 June 2026

Bantul (MTsN 6 Bantul) – Membangun karakter siswa tidak selalu harus dilakukan melalui pemberian hukuman. MTsN 6 Bantul menerapkan pendekatan personal sebagai salah satu strategi utama dalam menangani berbagai permasalahan yang dihadapi peserta didik, baik yang berkaitan dengan kedisiplinan maupun kesulitan belajar. Melalui komunikasi yang hangat dan penuh empati, guru berupaya memahami kondisi siswa secara menyeluruh sehingga solusi yang diberikan lebih tepat sasaran dan berdampak positif. (12/06/26)

Pendekatan ini dilakukan dengan mengedepankan dialog dari hati ke hati antara guru dan siswa. Ketika terjadi pelanggaran atau penurunan motivasi belajar, siswa diajak berdiskusi secara pribadi untuk mengungkap penyebab yang sebenarnya. Dalam banyak kasus, permasalahan yang muncul ternyata berakar pada kondisi keluarga, pergaulan, maupun kesulitan memahami materi pelajaran. Dengan mengetahui akar persoalan tersebut, guru dapat memberikan pendampingan yang lebih sesuai dengan kebutuhan siswa.

Selain memberikan ruang bagi siswa untuk menyampaikan perasaannya, guru juga membimbing mereka melalui berbagai kegiatan positif sebagai bentuk pembinaan. Siswa yang melakukan pelanggaran tidak semata-mata diberikan sanksi, tetapi diarahkan untuk melakukan aktivitas yang mendidik, seperti membantu kegiatan madrasah, merapikan sarana pembelajaran, atau menambah hafalan. Setelah menunjukkan perubahan yang baik, siswa juga mendapatkan apresiasi dari guru sebagai bentuk penghargaan atas usaha mereka memperbaiki diri.

Wali Kelas IX A, Fauka Nurul, menilai bahwa pendekatan personal sangat relevan diterapkan kepada peserta didik saat ini. Menurutnya, siswa akan lebih mudah menerima nasihat ketika mereka merasa dihargai dan didengarkan. “Anak-anak zaman sekarang membutuhkan perhatian dan ruang untuk menyampaikan apa yang mereka rasakan. Ketika hubungan antara guru dan siswa terjalin dengan baik, proses pembinaan menjadi lebih efektif. Kuncinya adalah kesabaran, ketelatenan, dan konsistensi dalam mendampingi mereka,” ujarnya.

Kepala MTsN 6 Bantul, Sugiyono, mengapresiasi upaya para guru yang terus mengedepankan pendekatan humanis dalam mendidik siswa. Ia menegaskan bahwa pembentukan akhlak tidak dapat dilakukan melalui paksaan, melainkan melalui keteladanan dan kasih sayang. “Sesuai visi madrasah, kami berkomitmen mencetak generasi Qur’ani yang berakhlak mulia. Karena itu, guru tidak hanya berperan sebagai pendidik, tetapi juga menjadi orang tua kedua yang membimbing, mendengarkan, dan mengarahkan siswa dengan penuh kepedulian. Alhamdulillah, pendekatan ini telah memberikan hasil yang positif bagi perkembangan karakter peserta didik,” tutur Sugiyono. Melalui strategi tersebut, MTsN 6 Bantul membuktikan bahwa pendidikan yang menyentuh hati akan lebih efektif dalam menumbuhkan kesadaran dan perubahan perilaku yang berkelanjutan.(fau/ewh)