Lompat ke isi utama
MIN 2 Bantul

Perkuat Supervisi Digital dan Implementasi KBC, Guru MIN 2 Bantul Isi Aplikasi MAGIS

Dikirim oleh sugiyono@46 pada 1 October 2026

Bantul (MIN 2 Bantul) – Guru dan pegawai MIN 2 Bantul melaksanakan pengisian aplikasi MAGIS (Madrasah Digital Supervision) di ruang kelas 1A pada Kamis, 1 Oktober 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya madrasah mendukung pelaksanaan supervisi dan refleksi pembelajaran berbasis digital sekaligus memperkuat implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC).

MAGIS merupakan aplikasi atau platform digital yang dikembangkan Kementerian Agama Republik Indonesia melalui Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) untuk memudahkan proses pengawasan, supervisi, serta refleksi pembelajaran di lingkungan madrasah secara digital.

Dalam pelaksanaannya, guru dan pegawai MIN 2 Bantul masuk ke akun masing-masing melalui portal EMIS GTK. Selanjutnya, setiap pengguna melakukan pengisian data dan instrumen yang tersedia pada aplikasi MAGIS sesuai dengan kondisi dan pelaksanaan yang sebenarnya di madrasah.

Kepala MIN 2 Bantul, Yuhrotul Mardhiyah, menyampaikan bahwa MIN 2 Bantul menjadi salah satu madrasah yang dipercaya sebagai pilot project KBC. Oleh karena itu, pengisian instrumen dalam aplikasi MAGIS perlu dilakukan secara sungguh-sungguh dan sesuai dengan kondisi nyata.
“MIN 2 Bantul sebagai pilot project KBC. Pengisian dalam aplikasi MAGIS harus dilakukan sesuai dengan kondisi yang sebenarnya. Ketika mengisi KBC, harus real sesuai kesadaran masing-masing, sehingga data yang dihasilkan dapat undangan menggambarkan pelaksanaan KBC di madrasah,” ujar Yuhrotul.

Kegiatan pengisian aplikasi MAGIS tersebut dipandu oleh Rini Astuti, Pengawas Kementerian Agama Kabupaten Bantul, yang memberikan arahan kepada guru dan pegawai terkait langkah-langkah pengisian serta pemanfaatan aplikasi.

Rini Astuti menyampaikan bahwa pengisian MAGIS hendaknya dilakukan dengan memahami setiap instrumen yang tersedia dan memberikan jawaban sesuai dengan kondisi yang benar-benar terjadi dalam pelaksanaan pembelajaran dan budaya madrasah.
“MAGIS diharapkan dapat membantu madrasah melakukan refleksi secara lebih terarah. Karena itu, pengisian harus dilakukan secara jujur dan sesuai dengan kondisi nyata, sehingga hasilnya dapat menjadi bahan evaluasi dan perbaikan ke depan,” jelas Rini.

Melalui kegiatan tersebut, MIN 2 Bantul terus mendorong pemanfaatan teknologi digital dalam pengelolaan madrasah. Pengisian MAGIS juga diharapkan tidak sekadar menjadi pemenuhan administrasi, tetapi dapat menjadi sarana refleksi bagi guru dan madrasah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran serta memperkuat penerapan nilai-nilai KBC dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan pengisian yang dilakukan secara objektif dan sesuai kondisi nyata, data MAGIS diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai pelaksanaan supervisi, refleksi pembelajaran, dan implementasi KBC di MIN 2 Bantul. (Zul)