Ketua IPARI Bantul Dukung Kegiatan Ekoteologi, Perkuat Sinergi Penyuluh Lintas Agama
Bantul (IPARI Bantul) – Semangat menjaga kelestarian lingkungan sekaligus memperkuat kolaborasi lintas agama mewarnai kegiatan Ekoteologi yang diselenggarakan oleh Kelompok Kerja Penyuluh Agama Subbag TU Kementerian Agama Kabupaten Bantul pada Kamis (30/07/2026). Bertempat di Gereja Mater Dei Imogiri, kegiatan bertema "Merawat Ciptaan, Menguatkan Pelayanan" tersebut diikuti puluhan penyuluh agama dari berbagai agama yang bertugas di Kabupaten Bantul.
Kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen Kementerian Agama Republik Indonesia dalam mengimplementasikan salah satu program prioritas Asta Protas, yakni penguatan ekoteologi sebagai gerakan bersama untuk membangun kesadaran masyarakat dalam menjaga kelestarian alam sebagai bagian dari pengamalan nilai-nilai keagamaan.
Sejak pagi, para peserta tampak antusias mengikuti rangkaian kegiatan. Selain mendapatkan penguatan materi mengenai ekoteologi, mereka juga mengikuti pelatihan pembuatan sabun dan lilin berbahan ramah lingkungan. Pelatihan tersebut dirancang agar para penyuluh memiliki keterampilan yang dapat dikembangkan bersama kelompok binaan, sekaligus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya memanfaatkan bahan-bahan yang lebih aman bagi lingkungan.
Jency Valter, Penyuluh Agama Kristen sekaligus panitia kegiatan, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan implementasi langsung dari program strategis Kementerian Agama yang saat ini menempatkan isu lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual setiap pemeluk agama.
"Kegiatan ini merupakan realisasi dari program Asta Protas yang didorong oleh Nasaruddin Umar. Melalui kegiatan ini kami ingin mengajak para penyuluh untuk menjadi pelopor dalam membangun kepedulian terhadap lingkungan melalui pendekatan keagamaan," ujar Jency.
Menurutnya, penyuluh agama memiliki posisi yang sangat strategis karena berinteraksi langsung dengan masyarakat. Oleh sebab itu, penyuluh diharapkan mampu menyampaikan pesan-pesan keagamaan yang tidak hanya berorientasi pada aspek ibadah, tetapi juga pada upaya menjaga kelestarian alam sebagai amanah Tuhan.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Subbagian Tata Usaha Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bantul, Aminuddin, menegaskan bahwa program ekoteologi bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan telah menjadi bagian dari tugas mandatori seluruh jajaran Kementerian Agama.
Ia menyampaikan bahwa seluruh aparatur sipil negara di lingkungan Kementerian Agama diharapkan dapat mendukung dan mengimplementasikan program tersebut dalam berbagai aktivitas pelayanan kepada masyarakat.
"Ekoteologi yang saat ini diusung oleh Kementerian Agama merupakan tugas mandatori. Oleh karena itu, seluruh pegawai di lingkungan Kementerian Agama diharapkan ikut serta menyukseskan program ini sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat," ungkap Aminuddin.
Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bantul, Muntolib, yang hadir membuka kegiatan memberikan apresiasi atas inisiatif Kelompok Kerja Penyuluh Agama Katolik yang berhasil menghadirkan ruang kolaborasi bagi para penyuluh lintas agama.
Menurutnya, keberagaman yang dimiliki Indonesia merupakan kekuatan besar untuk bersama-sama menghadirkan solusi terhadap berbagai persoalan sosial, termasuk isu lingkungan hidup yang saat ini menjadi perhatian dunia.
"Keberadaan penyuluh di masyarakat sangat dibutuhkan. Dengan adanya kegiatan ini kami harapkan dapat menambah wawasan dalam melakukan pendampingan kepada kelompok binaan sehingga pelayanan penyuluh semakin berkualitas dan memberikan manfaat yang lebih luas," kata Muntolib.
Ia juga berharap semangat menjaga lingkungan dapat menjadi gerakan bersama yang terus disosialisasikan kepada masyarakat melalui berbagai kegiatan pembinaan keagamaan.
Dukungan terhadap kegiatan ini juga datang dari Ketua Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Kabupaten Bantul, Sri Sumiyatun. Kehadirannya menjadi bentuk komitmen organisasi profesi penyuluh dalam mendukung berbagai program strategis Kementerian Agama, khususnya yang melibatkan kolaborasi lintas agama.
Sri Sumiyatun menilai kegiatan seperti ini tidak hanya meningkatkan kompetensi penyuluh, tetapi juga mempererat hubungan antarpenyuluh dari berbagai agama. Menurutnya, sinergi yang telah terbangun perlu terus dijaga agar penyuluh mampu memberikan pelayanan yang semakin luas dan berdampak bagi masyarakat.
"Saya berharap ke depan kegiatan penyuluh lintas agama dapat terus berlanjut, sehingga penyuluh akan semakin berdampak dan semakin luas kegiatannya," ujar Sri.
Ia menambahkan bahwa kolaborasi lintas agama merupakan modal sosial yang sangat berharga dalam memperkuat kerukunan umat beragama di Kabupaten Bantul. Dengan saling belajar dan berbagi pengalaman, para penyuluh diharapkan mampu menghadirkan program-program inovatif yang menyentuh kebutuhan masyarakat.
Kegiatan ekoteologi ini sekaligus menunjukkan bahwa nilai-nilai agama memiliki peran penting dalam membangun kesadaran ekologis. Melalui pendekatan spiritual, masyarakat diajak memahami bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau kelompok tertentu, melainkan merupakan bagian dari ibadah dan wujud syukur atas anugerah ciptaan Tuhan.
Dengan berakhirnya kegiatan ini, para peserta diharapkan dapat menjadi agen perubahan di tengah masyarakat. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama pelatihan dapat diterapkan serta disebarluaskan kepada kelompok binaan masing-masing sehingga gerakan merawat bumi terus berkembang dan memberikan manfaat nyata.
Melalui kolaborasi lintas agama yang semakin erat, semangat "Merawat Ciptaan, Menguatkan Pelayanan" diharapkan tidak berhenti sebagai tema kegiatan semata, melainkan menjadi gerakan bersama yang memperkuat pelayanan keagamaan, memperkokoh kerukunan umat, serta menghadirkan kontribusi nyata bagi pelestarian lingkungan di Kabupaten Bantul. (Jml)