Langkah Nyata Menuju Madrasah Berwawasan Lingkungan, Kepala MAN 3 Bantul Dilantik sebagai Tim Penggerak Ekoteologi Kemenag Bantul
Bantul (MAN 3 Bantul) — Membangun kesadaran menjaga lingkungan yang yang berlandaskan kuat pada nilai-nilai ajaran agama, menjadi langkah strategis untuk mewujudkan kelestarian alam secara berkelanjutan. Dalam rangka memperkuat gerakan tersebut, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bantul menggelar kegiatan Pengukuhan dan Pelantikan Tim Penggerak Ekoteologi, Selasa (07/07/2026). Kegiatan ini berlangsung di Aula Lantai 2 Kantor Kemenag Bantul dan dihadiri oleh para pejabat struktural, pengawas madrasah, kepala satuan pendidikan, serta tenaga pendidik dari berbagai lingkungan kerja di wilayah Bantul.
Salah satu tokoh yang secara resmi dilantik dan diangkat menjadi anggota tim tersebut adalah Kepala MAN 3 Bantul, Suyanto. Keikutsertaan Kepala MAN 3 Bantul dalam tim ini diharapkan menjadi jembatan efektif untuk mengintegrasikan nilai-nilai ekoteologi ke dalam seluruh aspek penyelenggaraan pendidikan di lingkungan madrasah, sekaligus menjadi contoh bagi lembaga pendidikan lainnya.
Dalam sambutan sekaligus pengukuhan tim, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bantul, Muntolib menegaskan bahwa konsep ekoteologi merupakan pemikiran yang terintegrasi dengan ajaran agama yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Hadis. Landasan utamanya tertuang dalam penegasan bahwa manusia diciptakan dan dianugerahi kedudukan sebagai khalifah fil ardh, yaitu pemimpin sekaligus pengelola yang bertanggung jawab atas seluruh isi dan kelestarian muka bumi.
“Kedudukan sebagai khalifah ini tidak berarti manusia memiliki kuasa tak terbatas untuk berbuat semena-mena atau mengeksploitasi alam sesuka hati. Sebaliknya, kedudukan ini membawa amanah dan tanggung jawab mulia untuk menjaga, memelihara, memakmurkan, serta memanfaatkan sumber daya alam sesuai dengan ketentuan dan kehendak Sang Pencipta,” tegas Muntolib dalam pidatonya.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bantul menambahkan bahwa dewasa ini diperlukan upaya serius untuk mengembalikan ruh dan martabat sejati manusia dalam menjalani perannya. Selama ini, pandangan yang berkembang seringkali memosisikan alam semata sebagai objek yang dapat dieksploitasi secara terus-menerus demi keuntungan ekonomi sesaat. Pandangan sempit dan tidak bertanggung jawab inilah yang harus segera diluruskan agar tercipta hubungan yang harmonis dan seimbang antara manusia dengan lingkungannya.
“Alam semesta beserta segala isinya adalah anugerah sekaligus titipan amanah dari Allah SWT. Oleh karena itu, alam wajib dikelola, dijaga, dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya serta penuh rasa syukur, bukan dihabiskan, dirusak, atau dibiarkan rusak. Harmonisasi hubungan ini menjadi kunci utama agar kehidupan di bumi tetap terjaga keseimbangannya dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang,” lanjutnya.
Sebagai wujud nyata penerapan nilai-nilai ekoteologi dalam kehidupan bermasyarakat, Muntholib mencontohkan program unggulan yang telah digagas dan dijalankan oleh Pemerintah Kabupaten Bantul, yaitu Program Reresik Kali. Kegiatan pemeliharaan, pembersihan, dan pengawasan aliran sungai yang dilakukan secara berkelanjutan ini dinilai sangat relevan dan dapat menjadi sarana praktik terbaik dalam mengamalkan ajaran agama.
“Program seperti Reresik Kali tidak boleh dipandang sekadar kegiatan fisik membersihkan lingkungan semata. Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan bentuk ibadah nyata dan wujud tanggung jawab kita sebagai khalifah. Oleh sebab itu, gerakan ini perlu didukung, diperluas, dan dikembangkan dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat, termasuk dunia pendidikan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Muntolib menekankan peran strategis lembaga pendidikan, khususnya madrasah, sebagai tempat pembentukan karakter generasi muda. Ia mengajak agar para murid selain dibekali teori, mereka juga diajak terlibat langsung dalam praktik-praktik baik yang mencerminkan nilai-nilai ekoteologi.
“Para murid di madrasah perlu diperkenalkan, dibiasakan, dan dilibatkan dalam berbagai kegiatan nyata yang berkaitan dengan pelestarian lingkungan. Jika pemahaman ini sudah tertanam kuat dan menjadi kebiasaan, maka akan lahir generasi yang cerdas secara intelektual, kuat dalam iman dan takwa, serta juga memiliki kepedulian tinggi terhadap kelestarian alam. Inilah wujud nyata madrasah yang melahirkan insan kamil,” tegasnya.
Sementara itu, dengan dilantiknya Suyanto sebagai anggota Tim Penggerak Ekoteologi, Kementerian Agama Kabupaten Bantul menaruh harapan besar agar MAN 3 Bantul dapat menjadi percontohan. Kehadirannya diharapkan mampu merancang dan menerapkan program-program terpadu yang mengintegrasikan nilai pelestarian alam ke dalam kurikulum, kegiatan ekstrakurikuler, hingga budaya hidup sehari-hari di lingkungan madrasah.
Dengan terbentuknya tim penggerak ini, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bantul optimis akan tercipta gerakan yang meluas dan berkelanjutan. Tujuannya tidak lain adalah mewujudkan lingkungan yang bersih, sehat, dan lestari, sekaligus membuktikan bahwa ajaran Islam sangat selaras dan mendukung sepenuhnya upaya menjaga keseimbangan alam demi kesejahteraan dan keberlangsungan hidup bersama. (ris/sal)