Lompat ke isi utama
KUA Sedayu

KUA Sedayu Hadir di Mujahadah Dzikrul Ghofilin, Perkuat Sinergi Keagamaan Bersama MWCNU dan Jemaah

Dikirim oleh Dendy Pramana.P pada 28 September 2026

Bantul (KUA Sedayu) – Kantor Urusan Agama (KUA) Sedayu turut hadir dalam kegiatan Mujahadah Dzikrul Ghofilin yang berlangsung khidmat di Pondok Pesantren Umum Muta’allimin, Jambon, Argosari, Sedayu, pada Ahad malam (27/09/2026). Kegiatan tersebut diikuti oleh ratusan jamaah serta dihadiri jajaran pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kapanewon Sedayu.

 

Dalam kesempatan tersebut, Nova Andriyanto, Penyuluh Agama Islam KUA Sedayu, hadir mewakili Kepala KUA Sedayu sekaligus menyampaikan sambutan di hadapan para jamaah. Kehadiran KUA Sedayu menjadi bagian dari upaya memperkuat silaturahmi dan sinergi antara lembaga pemerintah di bidang keagamaan dengan para ulama, pesantren, organisasi kemasyarakatan Islam, serta masyarakat.

 

Mujahadah Dzikrul Ghofilin berlangsung dalam suasana penuh kekhusyukan. Ratusan jemaah mengikuti rangkaian kegiatan dengan penuh perhatian dan kekhidmatan. Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi sarana untuk meningkatkan kedekatan spiritual kepada Allah SWT, tetapi juga menjadi ruang mempererat ukhuwah Islamiyah dan kebersamaan masyarakat.

 

Sejumlah tokoh MWCNU Kapanewon Sedayu turut hadir dalam kegiatan tersebut. Di antaranya Kiai Muhadi selaku Rois Syuriah, Kiai Suwandi selaku Katib Syuriah, Kiai Muh. Zabidi selaku Ketua Tanfidziyah, serta Kiai Sugiyat selaku Sekretaris MWCNU Sedayu.

 

Kehadiran para ulama dan pengurus MWCNU tersebut menambah kekhidmatan kegiatan. Mujahadah menjadi momentum untuk bersama-sama menghidupkan tradisi dzikir, doa, dan penguatan nilai-nilai keagamaan di tengah masyarakat.

 

Dalam sambutannya, Nova Andriyanto menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan Mujahadah Dzikrul Ghofilin. Menurutnya, kegiatan keagamaan semacam ini memiliki peran penting dalam membangun kehidupan masyarakat yang tidak hanya maju secara sosial, tetapi juga memiliki keteguhan spiritual.

 

“Kegiatan mujahadah dan dzikir seperti ini merupakan bagian penting dalam membangun ketahanan spiritual masyarakat. Di tengah berbagai kesibukan dan tantangan kehidupan, masyarakat membutuhkan ruang untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, memperbanyak dzikir, berdoa, sekaligus mempererat silaturahmi,” ujar Nova dalam sambutannya.

 

Ia juga menyampaikan bahwa KUA tidak hanya memiliki tugas dalam pelayanan administrasi pernikahan, tetapi juga mempunyai peran dalam pembinaan kehidupan keagamaan masyarakat melalui penyuluhan dan berbagai kegiatan sosial-keagamaan.

 

Menurutnya, sinergi antara KUA, pesantren, ulama, organisasi keagamaan, dan masyarakat merupakan salah satu kekuatan penting dalam menjaga kehidupan keagamaan yang harmonis.

 

“KUA memiliki tugas untuk hadir di tengah masyarakat. Karena itu, sinergi dengan para kiai, pesantren, MWCNU, penyuluh agama, dan seluruh elemen masyarakat perlu terus dibangun. Dengan kebersamaan, pembinaan keagamaan akan semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat,” tambahnya.

 

Sementara itu, Kiai Muhadi selaku Rois Syuriah MWCNU Sedayu menilai kegiatan mujahadah memiliki nilai penting dalam menjaga tradisi keagamaan masyarakat. Menurutnya, dzikir dan doa bersama menjadi salah satu sarana untuk memperkuat hubungan manusia dengan Allah SWT sekaligus mempererat hubungan antarsesama.

 

“Majelis dzikir bukan sekadar kegiatan berkumpul, tetapi merupakan ikhtiar untuk membersihkan hati, memperbanyak mengingat Allah, dan memperkuat persaudaraan. Ketika masyarakat berkumpul dalam suasana dzikir dan doa, yang tumbuh bukan hanya ketenangan batin, tetapi juga rasa kebersamaan,” demikian pandangan yang dapat disampaikan Kiai Muhadi.

 

Kiai Suwandi, Katib Syuriah MWCNU Sedayu, juga menekankan pentingnya menjaga kesinambungan kegiatan keagamaan di tengah masyarakat. Menurutnya, tradisi majelis dzikir, pengajian, dan mujahadah perlu terus dirawat agar nilai-nilai keislaman tetap hidup dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

 

“Tradisi keagamaan harus terus diwariskan kepada generasi berikutnya. Anak-anak muda perlu diberikan ruang untuk mengenal dzikir, doa, pengajian, dan berbagai kegiatan keagamaan secara langsung. Dengan demikian, nilai-nilai keislaman tidak berhenti pada teori, tetapi menjadi bagian dari kehidupan,” ungkapnya.

 

Ketua Tanfidziyah MWCNU Sedayu, Kiai Muh. Zabidi, dalam kesempatan tersebut turut mengapresiasi antusiasme jamaah yang hadir. Banyaknya jamaah yang mengikuti kegiatan menunjukkan bahwa masyarakat masih memiliki perhatian besar terhadap kegiatan pembinaan spiritual dan keagamaan.

 

Menurutnya, kebersamaan antara ulama, pemerintah, organisasi keagamaan, pesantren, dan masyarakat merupakan modal penting dalam membangun kehidupan sosial yang harmonis.

 

“Kebersamaan seperti ini perlu terus dijaga. Pemerintah, ulama, organisasi keagamaan, pesantren, dan masyarakat memiliki peran masing-masing. Jika semuanya berjalan bersama, insyaallah pembinaan umat akan semakin kuat,” tuturnya.

 

Sementara itu, Kiai Sugiyat selaku Sekretaris MWCNU Sedayu melihat kegiatan Mujahadah Dzikrul Ghofilin sebagai momentum untuk mempererat tali silaturahmi antarjamaah dan warga Nahdlatul Ulama di wilayah Sedayu.

 

Ia menilai bahwa kegiatan keagamaan yang melibatkan masyarakat secara luas dapat menjadi ruang bertemunya berbagai kalangan. Tidak hanya untuk mengikuti rangkaian ibadah, tetapi juga untuk saling mengenal, berbagi pengalaman, dan memperkuat kepedulian sosial.

 

“Majelis seperti ini memiliki manfaat yang luas. Selain dzikir dan doa, jamaah dapat mempererat silaturahmi. Dari silaturahmi inilah kemudian muncul kepedulian dan semangat untuk bersama-sama membangun kehidupan masyarakat,” ujarnya.

 

Kegiatan Mujahadah Dzikrul Ghofilin di Pondok Pesantren Umum Muta’allimin juga memperlihatkan kuatnya peran pesantren sebagai salah satu pusat pembinaan keagamaan masyarakat. Pesantren tidak hanya menjadi tempat pendidikan bagi para santri, tetapi juga menjadi ruang terbuka bagi masyarakat untuk mendapatkan pembinaan spiritual dan memperkuat hubungan sosial.

 

Bagi masyarakat Sedayu, keberadaan kegiatan seperti ini menjadi bagian dari kekayaan tradisi keagamaan yang terus dipelihara. Dzikir, mujahadah, pengajian, dan doa bersama menjadi sarana untuk menjaga keseimbangan antara kehidupan sosial dan spiritual.

 

Kehadiran KUA Sedayu dalam kegiatan tersebut juga menjadi bentuk nyata keterlibatan penyuluh agama dalam kehidupan masyarakat. Penyuluh Agama Islam memiliki posisi strategis dalam memberikan edukasi keagamaan, mendampingi masyarakat, serta menjembatani komunikasi antara program pembinaan keagamaan dengan kebutuhan masyarakat di tingkat kapanewon.

 

Nova Andriyanto menyampaikan bahwa penyuluh agama harus terus membangun komunikasi dengan berbagai unsur masyarakat. Menurutnya, penyuluhan agama akan lebih efektif apabila dilakukan melalui pendekatan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

 

“Penyuluh agama harus hadir dan menyatu dengan masyarakat. Tidak hanya menyampaikan materi keagamaan, tetapi juga mendengarkan persoalan dan kebutuhan masyarakat. Dari situlah pembinaan dapat dilakukan secara lebih kontekstual dan memberikan manfaat,” katanya.

 

Ratusan jamaah yang hadir mengikuti kegiatan dengan penuh kekhusyukan hingga rangkaian acara selesai. Suasana kebersamaan tampak begitu kuat, terutama ketika jamaah bersama-sama mengikuti dzikir dan doa.

 

Mujahadah Dzikrul Ghofilin akhirnya bukan sekadar menjadi agenda rutin keagamaan, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat ukhuwah, memperkokoh silaturahmi, serta membangun sinergi antara KUA Sedayu, MWCNU Sedayu, pesantren, ulama, dan masyarakat.

 

Kegiatan tersebut diharapkan dapat terus dilaksanakan secara berkesinambungan sehingga tradisi dzikir dan pembinaan keagamaan tetap tumbuh di tengah masyarakat. Lebih dari itu, kebersamaan yang terbangun diharapkan mampu menjadi kekuatan dalam menciptakan kehidupan masyarakat Sedayu yang religius, harmonis, guyub, dan saling peduli.

 

Dengan hadirnya KUA Sedayu bersama jajaran MWCNU dan ratusan jamaah dalam Mujahadah Dzikrul Ghofilin, terlihat bahwa kolaborasi antara pemerintah, ulama, pesantren, organisasi keagamaan, dan masyarakat memiliki ruang yang luas dalam memperkuat pembinaan kehidupan keagamaan di tingkat kapanewon. (jml)