Bukan Sekadar Lubang Biasa! Cara Murid MTsN 9 Bantul Cegah Genangan Air dengan Biopori
Bantul (MTsN 9 Bantul)—Memasuki musim penghujan, genangan air di area lapangan maupun taman sering kali menjadi kendala bagi aktivitas warga madrasah. Namun, alih-alih hanya mengandalkan saluran drainase konvensional, para murid MTsN 9 Bantul melakukan aksi nyata yang lebih ramah lingkungan. Mereka secara gotong royong menyulap halaman madrasah menjadi "spons" penyerap air melalui pembuatan lubang resapan biopori, Selasa (14/07/2026).
Kegiatan ini melibatkan partisipasi aktif murid kelas VII, VIII, dan IX. Berbekal alat bor tanah (alat biopori), para murid membuat lubang sedalam 80 hingga 100 sentimeter di berbagai titik yang rawan terjadi genangan. Lubang-lubang tersebut kemudian diisi dengan sampah organik, seperti daun-daun kering yang berguguran di halaman madrasah. Sampah organik ini nantinya akan memicu aktivitas fauna tanah, seperti cacing, yang secara alami membentuk pori-pori di dalam tanah sehingga mempercepat resapan air hujan.
Koordinator Kelompok Kerja Penanaman Tanaman, Mohamad Rosyid, menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang dengan pendekatan experiential learning atau pembelajaran berbasis pengalaman langsung. Murid tidak hanya mempelajari teori konservasi air di dalam kelas, tetapi juga mempraktikkannya secara langsung di lapangan.
"Melalui pembuatan biopori ini, kami ingin menyatukan dua hal penting dalam pendidikan karakter. Murid didorong menggunakan logika mereka untuk memahami secara teknis bagaimana air meresap dan bagaimana proses penguraian organik terjadi. Di saat yang sama, kegiatan ini menumbuhkan empati yang mendalam terhadap bumi, mengajarkan mereka untuk merawat alam dan mencegah kerusakan lingkungan sejak dini," ujarnya.
Pembuatan biopori ini semakin melengkapi ekosistem madrasah berwawasan lingkungan di MTsN 9 Bantul, menyusul pelaksanaan program Bank Sampah dan Losida (Lodong Sisa Dapur) yang telah berjalan sebelumnya.
Dampaknya pun mulai dirasakan. Selain membantu mengurangi genangan air saat hujan, sampah organik berupa dedaunan kering yang sebelumnya hanya dibuang kini memiliki fungsi sebagai bahan kompos alami yang menyuburkan tanah di lingkungan madrasah. Melalui aksi sederhana namun berdampak besar ini, MTsN 9 Bantul terus berkomitmen mencetak generasi muda yang cerdas, peduli, dan siap menjadi agen perubahan bagi kelestarian lingkungan. (wwt)