Lompat ke isi utama
MAN 3 Bantul

Strategi Jitu Berproses Kreatif: Dorongan Bagi Guru Bahasa Indonesia MA DIY Menjadi Penulis Kaya Karya dan Berilmu

Dikirim oleh Dendy Pramana.P pada 19 Mei 2026

Bantul (MAN 3 Bantul) – Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Indonesia Madrasah Aliyah Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar pertemuan rutin bertajuk “Strategi Jitu dalam Berproses Kreatif bagi Guru Bahasa Indonesia MA DIY” di Oemah Canting, Padukuhan Karangkulon, Kalurahan Wukirsari, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, pada Selasa (19/5/2026). Kegiatan yang berlangsung pukul 09.00 hingga 12.00 WIB ini dihadiri oleh para guru Bahasa Indonesia dari berbagai daerah di DIY dan menghadirkan praktisi sastra sekaligus budayawan, Tedi Kusyairi, sebagai narasumber utama.


Ketua MGMP Bahasa Indonesia MA DIY, Azhariansyah, dalam sambutannya mengucap syukur atas keberlangsungan kegiatan ini di tengah kesehatan yang senantiasa terjaga. Ia menyampaikan apresiasi mendalam kepada Tedi Kusyairi yang bersedia berbagi wawasan, serta berterima kasih kepada seluruh peserta yang telah hadir dari berbagai wilayah. Azhariansyah juga menyampaikan bahwa pertemuan kali ini memiliki kekhasan karena dilaksanakan di luar ruangan, yang jarang dilakukan sebelumnya, sekaligus mengajak para peserta untuk berkeliling menikmati kawasan wisata sekitar lokasi seperti Hutan Pinus, Mangunan, hingga Makam Raja-raja setelah acara selesai.


Dalam pemaparannya, Tedi Kusyairi menegaskan bahwa Guru Madrasah Aliyah di DIY memiliki posisi strategis, baik dari sisi dukungan kebijakan dan anggaran daerah maupun sebagai garda terdepan pengembangan literasi keagamaan. Menurutnya, peluang emas ini wajib dimanfaatkan guru untuk meningkatkan kualitas diri, salah satunya lewat kegiatan menulis. Ia mengajak para pendidik untuk bertekad menjadi “kaya”, bukan hanya secara materi demi mendukung kreativitas pendidikan, namun lebih utama kaya akan pengetahuan dan kaya akan hasil karya yang bernilai ganda, baik bagi diri sendiri maupun lembaga.


Lebih lanjut, Tedi memaparkan bahwa menulis merupakan bentuk investasi paling murah di era digital. Kelemahan dunia pendidikan saat ini, menurutnya, adalah kurangnya pengajaran tentang pola pikir investatif. Oleh karena itu, ia mendorong guru untuk mulai “menabung” kekayaan intelektual atau Intellectual Property (IP), serta memanfaatkan media sosial bukan sekadar mengikuti tren, melainkan sebagai sarana membangun citra diri yang berkarakter. Karya tulis, lanjutnya, tidak lagi terbatas pada buku cetak, namun telah berkembang menjadi buku digital dan hak cipta yang jangkauannya bisa menembus pasar internasional.


Untuk memulai proses kreatif, Tedi membagikan sejumlah strategi praktis. Langkah awal yang paling mudah adalah menulis hal-hal yang dekat dengan diri sendiri, sesuai pemahaman, minat, atau hobi agar lebih mudah menyusun tulisan dan mencari referensi. Bagi yang ingin meningkatkan kualitas karya, ia menyarankan mengangkat tema abadi atau perenial seperti agama, cinta, nilai kebaikan, sosial, maupun politik dengan sudut pandang yang khas dan orisinal. Selain itu, seorang penulis wajib bertindak sebagai penyunting pertama bagi karyanya sendiri, serta selektif memilih penerbit yang menghargai hak cipta dan memiliki jaringan distribusi luas, termasuk untuk penerbitan digital.


Agar kebiasaan menulis terbentuk dan mengatasi kebekuan ide, Tedi menyarankan para guru untuk aktif mengikuti berbagai lomba karya tulis. “Jangan terlalu memikirkan juara atau tidak. Lewat lomba, kita belajar disiplin waktu dan bisa meneliti karya-karya pemenang sebagai sarana belajar untuk mengasah kemampuan diri,” ungkap Tedi. Ia juga memberikan analogi menarik: jika pemancing biasa hanya mendapatkan ikan untuk dikonsumsi, maka guru dengan wawasan luas mampu menulis buku tentang cara memancing dan mendapatkan manfaat jauh lebih besar berupa royalti dari karyanya tersebut.


Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi pemicu semangat bagi para guru Bahasa Indonesia MA se-DIY untuk mulai aktif menabung karya. Langkah ini dinilai penting guna memajukan kualitas diri pribadi maupun lembaga madrasah agar semakin berkembang dan berdaya saing di era modern melalui karya-karya yang bernilai dan bermanfaat luas.(Ris)